Pusat Belanja Harus Berinovasi Untuk Jaga Pelanggan

Pusat Belanja Harus Berinovasi Untuk Jaga Pelanggan – Keluhan dari beberapa pedagang di beberapa pusat belanja terkait pendapatan penjualan maupun turunnya jumlah pengunjung, ditanggapi antusias oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) A. Stefanus Ridwan.

Stefanus mengungkapkan bahwa setiap pusat belanja tidak perlu takut untuk kekurangan pengunjung ataupun penurunan omset, jika tetap melakukan inovasi dan memberikan suatu alasan bagi pelanggan untuk kembali.

Baca Juga : APPBI Dorong Pariwisata Dengan Gelar WICSF 2017 di 100 Pusat Belanja

“Selama satu pusat belanja mempunyai inovasi dan ide bagus, maka tidak perlu takut dengan competitor sejenis ataupun dengan perdagangan online,” kata Stefanus saat di wawancara Kamis (28/9).

Stefanus dengan tegas menyatakan bahwa setiap toko , grosir baju muslim, grosir baju, atau pusat belanja haruslah bisa memberikan alasan bagi pelanggannya untuk kembali.

“Saya selalu mengedukasi anggota APPBI untuk selalu melakukan inovasi dan hal yang berbeda. Sehingga setiap pusat belanja memiliki ciri khas masing-masing dan mampu tetap menarik pelanggan walaupun ada pusat belanja sejenis didekatnya. Harus ada sesuatu yang wow yang membuat pelanggan selalu ingin kembali. Dan juga pelanggan bisa percaya bahwa produk yang kita miliki adalah yang paling baik,” terang Stefanus.

Solusi Penjualan Grosir Pedagang Tanah Abang
Solusi Penjualan Grosir Pedagang Tanah Abang

Baca Juga : Solusi Penjualan Grosir Pedagang Tanah Abang

Stefanus juga menegaskan bahwa jumlah pengunjung dan penjualan bukanlah tergantung pada suatu pusat belanja itu baru atau lama tapi tergantung bagaimana suatu pusat belanja yang mampu berubah mengikuti perkembangan pasar.

“Kalau dibilang saat ini banyak mal lama yang menurun penjualannya, coba bandingkan mana yang lebih lama Plaza Indonesia atau Mangga Dua Square? Lihat perkembangannya, kondisi penjualannya. Ini bukan tentang mal baru atau mal lama tapi tentang bagaimana mampu berinovasi dan membuat pelanggan kembali. Tentunya kebijakan dari pemilik pusat belanja akan menjadi sesuatu yang menentukan juga,” papar Stefanus.

Keragaman produk juga ditekankan oleh Stefanus sebagai penentu kembalinya pelanggan pada toko atau pusat belanja.

“Jika pelanggan datang hari ini, membeli produk. Lalu minggu depannya dia kembali dan produknya masih tetap sama,apa lagi yang mau dibeli. Ini kita bicara retail ya. Jika desain baju biasa saja atau sama dalam kurun waktu yang lama, pelanggan akan bosan,” kata Stefanus.

Sebagai solusi atas menurunnya pengunjung ataupun penjualan, Stefanus menekankan pada penyesuaian pada kebutuhan pasar dan keragaman produk.

“Kita sebagai penjual atau pemilik pusat belanja, haruslah bisa menyiapkan alasan untuk menaikan style dari pelanggan. Apalagi saat ini banyak sekali yang suka pamer di sosial media. Mereka mau makan, mereka selfie. Jadi kita harus tahu bahwa pakaian saat selfie juga harus menunjang. Kita harus tahu mode apa yang sedang hits. Atau melakukan terobosan mode secara berkala,” urai Stefanus.

Stefanus mengungkapkan bahwa tidak semua pusat belanja mengalami penurunan.

“Gak semua kok turun. Banyak juga yang meningkat. Seperti Kota Kasablanka mengalami kenaikan 18% dan Gandaria City naik 20%,” kata Stefanus.

Sumber : Model Gamis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*